Pustakawan VS Search Engine

Di era informasi yang teknologinya semakin canggih ini, sebagian besar orang lebih memilih hal-hal yang serba instan dalam memperoleh sesuatu terutama informasi. Melihat fenomena tersebut dikhawatirkan akan tergesernya keberadaan para pustakawan yang juga bertugas sebagai penyedia informasi. Keberadaan berbagai search engine di internet memang sangat memberikan kemudahan bagi seseorang dalam memperoleh informasi yang diinginkannya. Mereka dapat melakukan pencarian (browsing) sesuka mereka melalui search engine tanpa harus mencari-cari dan membaca berbagai buku di perpustakaan untuk mendapatkan informasi yang banyak dan lengkap. Namun, walau begitu tidak semuanya informasi di internet adalah informasi yang konkret, relevan dan berdasarkan fakta. Banyak informasi dari internet yang tidak jelas asal-usulnya (siapa pengarang, judul, sumber, dsb.).

Menurut saya para pustakawan selamanya akan tetap bisa aksis mengikuti perkembangan zaman yang bagaimanapun juga. Karena di dalam perpustakaan akan selalu menyediakan berbagai ilmu pengetahuan yang konkret, lengkap, relevan, dan jelas asal-usulnya walaupun harus susah payah untuk mendapatkan informasi-informasi yang diinginkan. Berbagai sumber ilmu pengetahuan ada di perpustakaan dan akan selalu diperbarui keberadaannya.

Menurut sumber yang saya peroleh dari salah satu website menyatakan bahwa, “ Pada dasarnya search engine adalah komunikasi antara manusia dengan mesin, bukan komunikasi antara manusia dengan manusia. Oleh karena itu mesin belum sepenuhnya mampu memaknai apa yang menjadi maksud dan keinginan manusia. Melihat dari kenyataan tersebut, maka dalam mencari sumber informasi di internet penelusur diasumsikan pengguna yang cerdas yang dapat dengan sepenuhnya menerapkan berbagai macam strategi penelusuran. Hal ini berbeda dengan perpustakaan yang sepenuhnya dikelola dengan konteks keilmuan, mulai dari sistem temu kembali, manajemen perpustakaan sampai penyebaran informasi dan pelayanan di perpustakaan semuanya dikelola dengan konteks keilmuan. Oleh karena itu, sebenarnya mencari informasi di perpustakaan jauh lebih mudah daripada mencari informasi di internet. Berdasarkan catatan dari mata kuliah “Pengantar Ilmu Perpustakaan dan Informasi” di semester pertama, Prof.Sulistyo-Basuki pernah mengemukakan alasan bahwa internet tidak akan pernah menggantikan fungsi perpustakaan. Alasan-alasan tersebut antara lain:

  • Tujuan internet lebih banyak hiburan daripada pendidikan
  • Internet semakin lama semakin bersifat komersial
  • Tidak semua ada di internet
  • Tidak ada otentifikasi di internet
  • Adanya hak cipta (tidak semua buku dapat dipindahkan di internet)
  • Tidak adanya komunikasi tatap muka secara langsung sebagai sistem interaksi sosial di internet.

Alasan-alasan yang dikemukakan Prof. Sulistyo-Basuki tersebut cukup relevan dengan keadaan sekarang. Hal tersebut juga menjadi bukti bahwa internet belum dapat menggantikan fungsi perpustakaan secara penuh dan mutlak karena internet hanyalah sebuah sistem jaringan komputer dan bukan sistem manajemen ilmu pengetahuan.”(http://kem.ami.or.id/2012/02/perpustakaan-vs-internet/)

Secuil sumber yang saya peroleh di atas menjadi penguat pendapat saya bahwa Search Engine tidak akan sepenuhnya selalu benar dalam penyediaan informasi dan keberadaan Pustakawan selamanya akan tetap aksis dan fleksibel mengikuti perkembangan zaman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s